BI Ajak Milenial Mengenal Sejarah Uang dan Ekonomi RI
Dutawarta.com - Berjalan-jalan ke museum mungkin bisa menjadi hal yang membosankan, apalagi di kalangan milenial. Padahal, museum dapat memberikan informasi penting di masa dahulu yang dialami sebuah negara.
Nah, sadar akan hal tersebut, maka Bank Indonesia (BI) pun memutar otak dan mendesain ulang tata pamer museum BI menjadi kekinian. Tentunya langkah ini dilakukan untuk semakin menggaet para milenial agar bisa lebih mengenal sejarah keuangan dan ekonomi indonesia.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, pada dasarnya museum bisa menjadi salah satu sumber kegiatan pariwisata yang bisa meningkatkan ekonomi Indonesia. Sebab, datangnya wisatawan bisa meningkatkan devisa negara.
Sejarah-sejarah dari zaman dahulu pun ada. Kedua, renovasinya cocok untuk teman-teman milenial jadi sudah teknologi deliver buat milenial apalagi kalau nilai tukar melemah dan kegiatan pariwisata bisa menambah devisa. Jadi museum merupakan usur penting dari kegiatan wisata," ujar Mirza dalam pembukaan renovasi tata ruang pamer di Museum BI Jakarta, Jumat (2/11/2018).
Bukan hanya soal sejarah saja, Mirza mengatakan, museum ini pun dapat memebrikan informasi terkait kebijakan yang dikeluarkan oleh banak sentral indonesia, mulaid ari urusan nilai tukar hingga inflasi.
"Ini memberikan informasi ekonomi. Bagaimana kebijaakn bank sentral, kebijakan ekonomi dikeluarkan di berbagai situasi ekonomi yang dihadapi oleh negeri kita ini," pungkas Mirza.
Adapaun, museum ini dirancang ulang oleh Yan Follain, seorang arsitek asal Singapura. Pengembangan tata pamer museum BI dilakukan pada klaster kelembangaan dan kebijakan periode 2004-2011 dan 2012-2016, serta klaster arsitektur gedung merupakan wujud implementasi pilar I.
papan Informasi dan layar pada klaster tersebut dilengkapi denganw arna-warna atraktif seperti kuning dan biru. Ruang pamer ini menampilkan konsep baru, time life and space, dengan sentuhan teknologi yang akan lebih baik sehingga mudai diterima milenial.
Pengembangan tata pamer Museum BI pada kedua klaster tersebut diharapkan semakin memberikan kemudahan bagi masyrakat dalam memahami dan menginternalisasi kebijakan Bank Indonesia serta manfaatnya bagi masyarakat.
Adapun, museum BI diarahkan kepada tiga pilar. Pertama, tata pamer yang aktraktif dan interatif, melalui dukungan teknologi dan tata pamer interaktif yang optimal.
Kedua, memperkuat strategi komunikasi melalui penyelenggaraan kegiatan level nasional dan internasional di Museum BI bekerjasama dengan Pemerintah, institusi/komunitas nasional dan internasional. Terakhir, program edukasi publik melalui kegiatan edukasi publik yang smart, interaktif bekerjasama dengan stakholders dan komunitas museum.
Jadi, memang tepat untuk kita selalu mengingat kata0kata Bung Karno, "Jangan sekali-kali melupakan sejarah". (**)
Facebook comments